Cerita Fahmi Konsumsi Obat Natural Hingga Rutin Makan Bawang Demi Sembuh Dari Corona

Cerita Fahmi Konsumsi Obat Natural Hingga Rutin Makan Bawang Demi Sembuh Dari Corona

Deputi bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM dr Reri Indriani mengatakan obat natural terbagi menjadi tiga, yaitu jamu, obat natural terstandar dan fitofarmaka. Penelitian terhadap senyawa kurkumin dilaporkan meningkatkan ACE2 pada hewan uji tikus, namun belum ada studi hubungan langsung terhadap infeksi virus corona (COVID-19). Selain bawang dan jahe, temulawak ternyata juga disebut-sebut mampu menangkal virus corona, yang juga mengandung curcumin. Terlebih, dari berbagai mitos yang beredar tentang bawang khususnya bawang putih, disebut efektif mencegah virus corona. Berbeda dengan teh hijau yang memiliki zat antioksidan dan berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Banyak penelitian yang juga membuktikan madu, bisa meredakan batuk yang muncul akibat flu.

Ahmad Waliyuddin pun mulai bertanya-tanya dimana ia terkena virus tersebut. Ia pun teringat pernah melakukan meeting di Jakarta, waktu itu pemerintah DKI sudah memperbolehkan warganya melakukan tatap muka setelah PSBB jilid pertama. Dalam assembly tersebut protokol kesehatan dijalankan, menggunakan masker, duduk berjauhan, dan sebelum masuk ruangan disemprotkan disinfektan. Setelah mengonsumsi minuman alami Tolak Angin SidoMuncul dan menggunakan minyak kayu putih untuk terapi, berolahraga, istirahat yang cukup serta mengonsumsi makanan bergizi, kini dirinya berangsur-angsur jauh lebih segar dan sehat. Tinggal dirawat, diolah, dan dimanfaatkan sedemikan rupa sehingga hasilnya menjadi berkhasiat.

Obat alami untuk covid

Untuk penggunaannya, obat tradisional juga juga harus memenuhi syarat, seperti tidak menimbulkan efek samping dan tidak mengganggu fungsi hati ataupun ginjal. Selama menjalani isolasi mandiri, Novel juga banyak mengonsumsi ramuan herbal dan probiotik. Suara.com – Penyidik senior KPK Novel Baswedan dinyatakan sembuh dari Covid-19. Namun, apabila mau mencegah gejala penyakit lain yang tidak disebabkan virus, minum natural kemungkinan bisa membantu.

KOMPAS.com – Informasi tentang ramuan berbagai bahan untuk mengatasi virus corona terus beredar. Sedangkan Togi Junice Hutadjulu menguraikan, perlu proses panjang hingga sebuah produk herbal masuk dalam kriteria tertentu. Produk yang disebut jamu, adalah bahan-bahan yang secara empiris diyakini masyarakat bermanfaat untuk menjaga kesehatan. “Pada awal pandemi, pasien di Wuhan melakukan karantina terpusat, menggunakan obat tradisional Tiongkok untuk mencegah virus menular,” katanya dalam keterangan virtual, Selasa (9/2). Togi meminta agar masyarakat untuk berhati-hati terkait obat baik modern dan tradisional di tengah situasi pandemi di mana muncul pihak yang mengklaim memiliki obat untuk mengobati penyakit COVID-19. Di Indonesia, obat bahan alam dikelompokkan menjadi tiga, yakni jamu, obat natural terstandar , serta fitofarmaka.

Yang perlu digarisbawahi, hingga April 2020, belum terdapat obat bahan alam, baik OHT maupun FF, yang telah disetujui untuk kegiatan pengobatan Covid-19. Pemanfaatan produk OHT dan FF lebih bertujuan sebagai upaya preventif menjaga daya tahan tubuh dalam menghadapi Covid-19. Selain itu, beberapa OHT dan FF digunakan untuk meredakan gejala tertentu yang terbatas.

“Kami harus tetap meyakinkan konsumen bisa memilih obat natural yang baik,” katanya. Sementara di Indonesia, pemerintah memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat di Jawa dan Bali. Protokol Kesehatan dengan Gerakan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun harus terus dijalankan. “Optimasi efek terhadap pengatasan gejala Covid-19 terutama mukolitik dan bronchospamolitik.

Untuk memudahkan identifikasi, baik jamu, OHT, maupun FF memiliki emblem yang berbeda di tiap kemasan. Hingga April 2020, terdapat sixty two produk OHT dan 25 FF yang telah terdaftar di Badan POM. Bahan atau ramuan bahan yang berasal tumbuhan, hewani, mineral, sediaan sarian atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan. Anggota Komite Nasional Penilai Obat BPOM Anwar Santoso menambahkan, uji klinis untuk fitofarmaka tidak sederhana, karena tetap harus dibandingkan dengan kontrol dan harus ada standarnya.

Comments are closed.